November 19, 2010

Potret mesin waktu



Di ruang tamu, gue melihat foto yang sama dengan 11 tahun lalu. Tiba-tiba ada mesin waktu doraemon yang membawa gue ke 11 tahun lalu. Gue inget banget apa perasaan gue waktu ngeliat foto di dinding itu 11 tahun lalu. Dan sekarang 11 tahun kemudian gue masih bisa ngerasain hal sama, seolah 11 tahun itu gak pernah ada.
Tapi.. sekarang keadaan udah banyak berubah.
11 tahun lalu waktu ngeliat foto keluarga itu rasanya sedih dan pahit. Di foto itu ada sesuatu yang paling gue pengenin di dunia tapi gak pernah gue punya. Potret keluarga bahagia. Isinya Papa Mama dan 3 orang anak yang tersenyum begitu tulus, begitu bahagia, bikin iri siapapun yang melihatnya *atau jangan-jangan cuma gue?*
Hari ini 11 tahun kemudian gue melihat foto yang sama, banyak pintu di kepala gue yang kebuka dan itu mengusik hati gue. Gue bersukur banget kenal orang-orang dalam rumah itu. Orang yang gak ada hubungan darah dengan gue, tapi mau dipanggil Mami Papi, sahabat yang seperti saudara sendiri, adik-adiknya yang gue anggep sebagai adik gue sendiri.
Saat rumah gak bisa lagi disebut rumah, cuma dengan dateng ke sana, gue tau gue selalu punya rumah. 
Mungkin di rumah itu mereka gak sadar kalo rumah itu dan penghuninya, membantu membentuk gue yang sekarang ini. Tuhan mengirimkan orang-orang terbaik.
Maaf kalo gue berubah.
Maaf kalo udah jarang maen ke rumah lagi.
Maaf gak pernah inget untuk sekedar say hi dengan sms basa basi.
Makasih karena dari kalian gue mengenal apa arti keluarga yang sebenarnya.
Makasih udah menyediakan rumah buat gue.
Makasih karena kalian, 11 tahun lalu menumbuhkan setitik iman di hati gue, kalo suatu saat gue juga akan punya keluarga yang lengkap.
Dan walaupun dulu kelihatannya mustahil, tapi setitik iman itu gak sia-sia. Sekarang gue punya keluarga lengkap yang amat sangat bahagia. :)
Makasih The Sastra’s family…
Congrats for the wedding Gil! :D

October 7, 2010

The power of social media


Hari itu kantor tempat gue ulang tahun ke 40. Diadakanlah acara ulang tahun yang cukup meriah. Dari awal hati gamang mau dateng apa gak. Tapi…  pikir-pikir yah bolehlah makan-makan gratis, sekalian ngeceng. Kali aja ada yang lucu. Belom lagi harapan tinggi buat bisa menang door prize yang konon ada motor, BB, laptop, dll…
Setelah makan beberapa ronde (makanannya gak mengecewakan) mata mulai nyari-nyari santapan mata. Apa boleh buat sampai saat-saat terakhir acara, jodoh belom dapet juga ya udahlah harapan terakhir tinggal berharap dapet door prize.
Berjejer bersama rekan-rekan kerja, ngarep (banget) bakal dapet hadiah motor (ato atleast rice cooker kek), sayangnya sampe saat terakhir, harapan udah pupus. Semua hadiah udah abis, nomor door prize belom juga dipanggil. Hiks!
Sambil menyesali nasib yang gak dapet jodoh maupun door prize, sayup-sayup kedengeran suara orang di depan ngajak berdoa karena ayah dari salah satu CEO kantor yang sakit kritis. Tapi dasar gue suka bengong, gue dengerinnya gak konsen gitu yang di depan ngomong apaan. Yang gue tau cuma kita disuruh sama-sama berdoa.
Perjalanan pulang dari ragunan ke tanjung duren, rasanya gak nyampe-nyampe, selain jauh, macet pula. Mulailah gue ngeluarin BB dari tas buat buka twitter. Tiba-tiba gue keinget salah satu CEO kantor itu. Seinget gue tadi sempet baca-baca doa, kayanya bokapnya udah berpulang deh. Hmmm… iseng-iseng (asli isengnya gak ketolongan) gue tweet dong ke CEO itu (baru 2 mingguan lalu follow followan). Kira-kira gini bunyi tweet gue, “my deepest sympathy to you and your family, blablabla…”
Abis gue ngetweet entah kenapa perasaan gue kaga enak banget. Gue baru mikir (telat) itu bokapnya meninggal gak yah? Ah, tapi kayanya meninggal, soalnya kan udah didoa doain.
Tiba-tiba ada BBM masuk dari client, kurang lebih percakapannya gini…
Client       : Neng itu beneran ayahnya pak X meninggal?
Me           : Iya pak. Eh, kayanya sih iya. Bapak tau darimana?
Client       : Lho kamu gimana sih? Pak Y nanya ke saya soalnya. (Pak Y ini bosnya client gue).
Me           : Tunggu sebentar saya tanya dulu.
Gue langsung dong buru-buru nanya anak kantor, konfirmasi. Bener gak yah udah meninggal, apa jangan-jangan cuma sakit? (telat banget mikirnya)
Nunggu konfirmasinya lama banget jawabnya. Pas dijawab gue langsung lemesss…. Ternyata bokapnya belom meninggal. Aaaahhhhhh…. Langsung buru-buru gue BBM client gue.
Me          : Pak ternyata cuma sakit belom meninggal. Hehehe…
Client      : Aduh neng, telat. Pak Y udah BBM ke pak X dan dia taunya berita itu dari twitter kamu lho.
Terus diforwartin dong isi BBM Pak Y ke Pak X.
“Turut berduka cita atas berpulangnya ayahanda tercinta, semoga amal ibadahnya diterima di sisiNya. Semoga sekeluarga diberi kekuatan.”
Yah kira-kita gitulah isinya. Terus sama CEO gue itu dibales, “Ayah saya belom meninggal.”
Gubrak! Huehehehehe….
Kayanya karir gue di kantor terancam mandek. Nyebarin berita gak bener (hoax) tentang bokap CEO meninggal kayanya dosa besar deh. Huhuhu…
Gue baru mikir. Hebat euy! The power of social media…. Salah ngetweet berdampak ke karir seseorang. (gue tepatnya)
Kenapa sih gue gak pernah berenti berbuat bodoh seumur hidup gue. Hiks!

September 19, 2010

PRINCE VS CLOWN




At the end we don’t need prince charming.
Only a clown that can makes us laugh.

PS: maaf kalo badutnya kegantengan, gue takut sama badut, jadi gambar itu yang paling mendingan. hahahaha....



September 17, 2010

hi frog!

Dari kita kecil kita pasti disuguhi cerita-cerita tentang prince charming. Pangeran ganteng, keren, super kaya yang tinggal di istana besar, naek kuda. Jadi waktu gue masih kecil itulah bayangan cowo idola menurut gue, dengan kuda putih dan jubah melambai-lambai *oke mulai lebay*
Intinya adalah we are all searching for perfection di diri pasangan kita. Even the frog turned into prince charming right? That’s why we love the story. Maybe because we are all assume that we are frog, waiting for prince charming that someday will turn us into princess. Or else… maybe because somehow we wish that we can change frog into prince charming :)

Well, I’ve been trying to figure out, what makes me so hard to fall in love? Apa yang salah dari cowo2 itu? They are perfect. Memenuhi criteria menantu idaman. Tapi kenapa gue tetep gak bisa suka, kenapa gue tetep ngerasa gak nyaman?

Well… mungkin (mungkin lho yah, I’m not sure)

Karena semua cowo2 itu berusaha untuk menjadi prince charming dan in return they want their fantasy princess…
Well I’m not a princess and definitely will never become one :)


July 18, 2010

Dua Dunia

Yang satu di pulau dewata.
Seorang lagi dengan kepenatan ibukota.

Yang satu membawa sampai mati budaya nenek moyangnya. “Aku keturunan asli penduduk lokal, darah murni.” Begitu katanya.
Sedangkan dia dengan akulturasi dua budaya yang berpadu. “Aku nggak punya kampung halaman, nenek moyangku jauh di negeri seberang, tapi darahku merah dan tulangku putih.”

Yang satu dengan pesona sejuta puranya.
Yang satu dengan bangunan lantai 30 nya.

Yang satu dengan dewa-dewanya.
Yang satu dengan Tuhannya

Yang satu dengan kesederhanaannya.
Yang satu dengan ambisinya.

Yang satu mengenal wanita sebagai seorang pendamping.
Yang satu terbiasa mandiri dan otoriter.

Yang satu seorang pegawai negeri yang hanya ingin hidup di desa.
Yang satu pengejar mimpi dengan yang ingin merengkuh dunia.

“Di sini nggak ada mall, cuma ada sawah.” Begitu katanya.
“Aku lunch dulu yah, palingan di mall.” Begitu kata yang satu.

Yang satu merayakan galungan.
Yang satu natalan.

Tapi Tuhan dengan caranya sendiri mempertemukan mereka. Tertawa karena mereka berdua tertawa. Tapi… Tuhan juga dengan caranya sendiri memisahkan mereka.

Dua dunia… Yang pada satu masa saat rasa membutakan logika, merasa keduanya dapat bersatu.

Dua dunia…

July 6, 2010

Dream for Free!

I just saw the video of Susan Boyle when she was stepped into the stage of British Got Talent for the first time. When Simon asked for her age, she answered 47 and everybody laugh at her. Then Simon asked again, “What’s the dream?” Without hesitation she answered, “I think to be a professional singer.” Once again everyone laugh. Simon asked again, “Who you like to be as successful as?” Once again without hesitation she answered, “Elaine Page” and everyone laugh even louder.
But…
When she starts singing, i bet that no one will ever laughs at her again like before.
Here’s the video!



I’ve read tons of books. Most of the book teaches us to chase our dream while we are young. Salah satu buku yang terkenal bahkan bilang usia keemasan kita adalah sampai umur 25, saat itulah kita harus mengejar impian kita.
But then again, I found out that dream is something that you have to carry on for a lifetime. Sometimes dream is the only thing that keeps you alive.
Semua orang besar di dunia adalah pemimpi besar.
Sebut saja Orville and Wilbur Wright, Einstein, Martin Luther King, Alexander Graham Bell, Leonardo Davinci, Dr. Seuss, Charles Dickens, Mahatma Gandhi, John Newton, Mother Theresa. Semuanya adalah pemimpi.

Edgar Cayce once said, “Dreams are today's answers to tomorrow's questions.”
No matter how old are you, don’t let your dream go wilt. :)