July 18, 2010

Dua Dunia

Yang satu di pulau dewata.
Seorang lagi dengan kepenatan ibukota.

Yang satu membawa sampai mati budaya nenek moyangnya. “Aku keturunan asli penduduk lokal, darah murni.” Begitu katanya.
Sedangkan dia dengan akulturasi dua budaya yang berpadu. “Aku nggak punya kampung halaman, nenek moyangku jauh di negeri seberang, tapi darahku merah dan tulangku putih.”

Yang satu dengan pesona sejuta puranya.
Yang satu dengan bangunan lantai 30 nya.

Yang satu dengan dewa-dewanya.
Yang satu dengan Tuhannya

Yang satu dengan kesederhanaannya.
Yang satu dengan ambisinya.

Yang satu mengenal wanita sebagai seorang pendamping.
Yang satu terbiasa mandiri dan otoriter.

Yang satu seorang pegawai negeri yang hanya ingin hidup di desa.
Yang satu pengejar mimpi dengan yang ingin merengkuh dunia.

“Di sini nggak ada mall, cuma ada sawah.” Begitu katanya.
“Aku lunch dulu yah, palingan di mall.” Begitu kata yang satu.

Yang satu merayakan galungan.
Yang satu natalan.

Tapi Tuhan dengan caranya sendiri mempertemukan mereka. Tertawa karena mereka berdua tertawa. Tapi… Tuhan juga dengan caranya sendiri memisahkan mereka.

Dua dunia… Yang pada satu masa saat rasa membutakan logika, merasa keduanya dapat bersatu.

Dua dunia…

July 6, 2010

Dream for Free!

I just saw the video of Susan Boyle when she was stepped into the stage of British Got Talent for the first time. When Simon asked for her age, she answered 47 and everybody laugh at her. Then Simon asked again, “What’s the dream?” Without hesitation she answered, “I think to be a professional singer.” Once again everyone laugh. Simon asked again, “Who you like to be as successful as?” Once again without hesitation she answered, “Elaine Page” and everyone laugh even louder.
But…
When she starts singing, i bet that no one will ever laughs at her again like before.
Here’s the video!



I’ve read tons of books. Most of the book teaches us to chase our dream while we are young. Salah satu buku yang terkenal bahkan bilang usia keemasan kita adalah sampai umur 25, saat itulah kita harus mengejar impian kita.
But then again, I found out that dream is something that you have to carry on for a lifetime. Sometimes dream is the only thing that keeps you alive.
Semua orang besar di dunia adalah pemimpi besar.
Sebut saja Orville and Wilbur Wright, Einstein, Martin Luther King, Alexander Graham Bell, Leonardo Davinci, Dr. Seuss, Charles Dickens, Mahatma Gandhi, John Newton, Mother Theresa. Semuanya adalah pemimpi.

Edgar Cayce once said, “Dreams are today's answers to tomorrow's questions.”
No matter how old are you, don’t let your dream go wilt. :)

May 8, 2010

Jumat Gaul Bersama Bapak Mar'ie Muhammad

Jumat gaul, lalu lintas kota Jakarta bagai neraka. Sialnya entah kenapa hari Jumat selalu dijadikan waktu untuk meeting dengan client.

Pulang dari meeting, rencana untuk makan indomie telor keju di roti bakarEdi kayanya harus ditangguhkan, soalnya males ngebayangin macetnya ke Edi padahal anaconda di perut udah minta makan dari tadi. Akhirnya mobil Avanza silver berisi gue, Adit dan supir kantor berbelok ke Gelora Bung Karno yang udah di depan mata.

Kita memutuskan untuk makan bakwan malang langganan gue aja di pintu 8 Senayan. Sampe sana, bau harum kuah kaldu sapi sama sama deretan bakwan goreng yang didisplay di gerobak bikin gue langsung ngeces. Kita bertiga langsung mesen masing-masing semangkok (nggak kebayang soalnya kalo semangkok bertiga).

Sambil menikmati bakwan, perhatian gue teralihkan sama bapak-bapak di depan gue yang berisik banget ngobrol sama penjual minuman di sana. Gue kenal penjual minuman itu, namanya si kumis. Kayanya dia dagang di sana udah 20 tahun lebih deh. Soalnya si kumis ini gaul banget. Dia kenal semua orang di sana, mulai dari atlet nasional, artis, sampe pejabat. Hehehe…

Si bapak yang berisik ini ngoceh mulu. Mulai dari politik, kemerdekaan, kapitalis, masa depan, wah banyak, nggak abis-abis. Salah satunya yang gue inget dia ngomongin soal anak muda zaman sekarang. Kalo menurut si bapak ini, katanya anak muda zaman sekarang tuh nggak mau susah dan kita tuh kehilangan sopan santun yang menjadi nilai bangsa Indonesia, contohnya adalah anak muda zaman sekaran kalo liat ada orangtua suka nggak permisi, nawarin makan (jleb, langsung gue tersindir). Gue langsung ngelirik Adit terus berbisik, “gak enak nih gue sambil makan berasa lagi diomelin.” Hehe…

Tiba-tiba ada seorang bapak tua yang abis olahraga berjalan ke dekat kita. Si bapak berisik (maaf yah saya kurang ajar, abis lebih gampang gitu nyebutnya) langsung yang jadi diem gitu, terus nawarin kursi, pokoknya over ramah (baca: kissing ass). Pokoknya bapak berisik ini kontan berubah 180ยบ.Gue langsung bertanya-tanya siapa sih bapak ini, “Dit emangnya dia siapa yah?” “ Itu Mar’ie Muhammad kali, mantan menteri keuangan dulu.” Sontak bibir gue membentuk rangkaian O bulat, “Oooooooo…”

Akhirnya kami terlibat pembicaraan ngalor ngidul bareng si bapak berisik, Pak Am’rie, si kumis, gue, Adit dan mas Agung. Sampe akhirnya pembicaraan kita ke arah soal pernikahan, tentang suami yang istrinya lebih dari 1.

Si Pak Am’rie ini bilang, “Saya bingung sama laki-laki yang istrinya banyak, ngapain sih? Saya kalo bisa setengah istri saya, setengahin aja.”

Gue ketawa, tapi masih belom menangkap maksudnya, ”Hahahaha… Emang kenapa pak?”

“Iyalah perempuan itu kan cenderung cerewet. Makanya pusing kalo banyak-banyak.

“Hahahahaha…” Kali ini gue ketawa lagi dan udah nangkep maksudnya.

“Makanya laki-laki yang bawel itu kan dibilangnya mulutnya kayak perempuan. Lagian buat apa istri banyak-banyak? Alasannya secara agama boleh, padahal pasti awalnya dari nafsu juga, itu kan salah. Alasannya istrinya nggak bisa punya anak, punya istri lagi, nggak punya anak juga. Lha wong sebenernya yang laki-lakinya yang nggak bisa punya anak.”

Sebagai satu-satunya wanita disana, udah pasti gue membenarkan perkataan Pak Am’rie. Haha…

Pak Am’rie melanjutkan, “Lagian kalau nggak bisa punya anak, kan sekarang sudah ada bayi tabung. Anak saya 9 tahun ngggak punya anak. Bikin bayi tabung sekarang anaknya sudah dua. Jadi kalau istri nggak bisa punya anak, jangan dicerai. Lain lho kalo perceraian karena maut. Itu juga sebenernya bukan cerai sih.”

Selama Pak Am’rie ngomongin soal itu, si bapak yang tadinya berisik, kritis dan sok tau itu diem aja. Gue melihat perubahan di raut wajahnya. Nggak lama si bapak berisik itu akhirnya bilang. “Istri saya 4 pak.”

Pak Ma’rie Muhammand langsung nyebut, “Astaqfirulloh.”

Hahahaha… I couldn’t help but laugh.

Si bapak berisik ini masih ngeles, “Tapi udah saya cerai kok pak, tinggal satu.” (kalo gue nggak salah denger sih dia bilang gitu).

Setelah itu si bapak berisik langsung pergi dan melipir.
Nggak lama gue juga pamit pergi (setelah bayar-bayaran tentunya).

Otw menuju mobil gue langsung berkomentar, “Emang yah bener kata pepatah, dibalik seorang pria yang berhasil pasti ada seorang wanita dan dibalik seorang pria yang gagal pasti ada lebih dari seorang wanita. Lo percaya nggak?”

“Yup behind every great man there is a woman.” Kata Adit.

“Pantesan tuh bapak bawel kaya gitu, istrinya empat sih.”

“Lo tau nggak, kalo orang yang bersikap kaya gitu, yang sering komentar macem-macem gitu, yang complain sama keadaan sekitarnya, sebenernya adalah orang yang sebenernya gak puas sama hidupnya sendiri.”

“Hmmm… iya bener banget lo.”

Malam itu sambil makan bakwan gue mendapatkan dua pesan moral:

1. Emang yang nyaring bunyinya itu biasanya udah pasti tong kosong.
2. Yup emang bener kok, dibalik seorang pria yang berhasil, cuma ada satu orang wanita :)

March 16, 2010

Laut Laut Laut

Arghhhhh… gue kangen laut!

Kangennya kronis parah. Lagi banyak hal di pikiran gue dan menurut gue tempat pelarian paling sempurna itu yah di laut atau pantai.

Pernah satu waktu… pada saat gue lagi pusing, bad mood, sedih, pokoknya when i was feel that too much drama in my life, gue ke pantai di bali gitu malem-malem. Gue dan 3 orang temen gue duduk di pinggir batu-batu. Di pantai itu cuma ada kita doang. Kalo kita ngeliat ke depan semuanya gelap, cuma ada garis putih berupa buih ombak dan sesekali kerlap kerlip lampu pesawat terbang di kejauhan. Ngeliat ke kiri lampu-lampu di sepanjang jimbaran yang keliatan eksotis banget menawarkan segala macam keriaan tapi tanpa suara. Ngeliat ke kanan semuanya gelap, pantai yang gak keliatan dimana batasnya. Ngeliat ke atas langit kelam penuh bintang. Backsound nya cuma debur ombak.
Kita semua diam, seakan diam itu adalah satu-satunya cara berkomunikasi. Semuanya seakan tau kalo masing-masing pengen menikmati moment ini, semuanya sibuk berkecamuk dengan pikiran masing-masing.

Pada saat ngeliat laut dalam diam itu, gue ngerasa ‘actually life is not that complicated’ Rasanya semua masalah gue kebawa sama angin entah ke belahan bumi mana. Pada saat itu rasanya pengen banget gue bisa berhentiin waktu. Gue Cuma pengen menikmati apa yang ada sekarang, tanpa peduli apa yang ada di belakang atau mikirin apa yang ada di depan.

Laut dan sejuta misterinya…

Karma Kandara




Gili Trawangan definitely one of my very favorite



Sempu


Pantai di Alas Purwo, ada paus terdampar...



Pantai Ciporeang di Garut


Pantai Gunung Geder di Sagaranten




Sebenernya gue pengen banget ngasih liat foto laut kalo lagi malem,soalnya menurut gue laut malem itu sexy, misterius, punya daya tarik tersendiri. Cuma susah banget kalo foto laut pas malem, yg keliatan cuma gelap.

March 15, 2010

Naik Angkot Gretong

Kemaren gue ke mall ambassador, ngeliat angkot yg dengan rapi ngetem d sana, gue jadi inget satu kejadian.

Suatu hari yang panas terik, gue ke mall ambassador naik busway, mau janjian sama temen-temen gue. Turun di halte busway lanjut lagi naek angkot. Nah biasa tuh kalo mau naek angkot gue selalu nyiapin duitnya dulu di kantong. Selama di angkot seperti biasa gue bengong-bengong, tiba-tiba aja udah depan ambas. Buru-buru deh gue ketok-ketok angkotnya (tau kan kalo ngetok atap angkot itu tandanya kita minta berenti? :D) terus gue turun lenggang kangkung. Di belakang gue kaya denger suara orang teriak-teriak, tp berhubung gue buru-buru dan gue anaknya cool cool aja, gue tetep cuek aja dong jalan cepat langkah kaki seribu.

Pas ketemu temen gue, dia beli sesuatu gitu tapi ga ada uang kecil. Dia nanya, “punya ribuan ga?” Guejawab, “Wah ga ada tadi udah buat naek angkot.” *Sambil dengan tetep usaha meriksa kantong celana*. Pas gue masukin tangan ke kantong celana,perasaan gue langsung gak enak. Duit ribuannya masih ada di sana. Gue baru sadar kalo lupa bayar angkot.
Pantesan yak tadi diteriakin. Hehehehe…

February 16, 2010

Kebobunting yang Gagap Camera...

Seperti biasa, setelah sekian lama gak nulis blog, akhirnya mulai nulis lagi. Padahal ada banyak tulisan tangan yang belum sempet diketik, tapi entah kenapa tiba-tiba pengen aja nulis di blog sekarang juga. Hehe…
Mungkin karena hari ini gue lagi agak BT mulai dari sore tadi. Biasanya gue mendapatkan inspirasi menulis di saat lagi marah, sedih, atau kecewa, pokoknya di saat-saat emosi gue mendominasi. Mungkin karena saat-saat seperti itulah gue menulis dengan paling jujur. Hehe…

Mulai dari Desember 2009, gue resmi berhenti dari pekerjaan lama gue. Gue memutuskan untuk belajar dan mencoba sesuatu yang baru. Keputusan yang sulit sih, karena gue cinta pekerjaan lama gue sebagai copy writer. Tapi kesempatan kan nggak datang dua kali. So here I am now, sejak Desember lalu jadi host Jejak Petualang (JP). Hehe… Ini salah satu dream job gue, jalan-jalan sambil dibayar. Sekitar bulan September gue sempet nonton acara petualangan dan gue bilang sama Tuhan, “Tuhan, saya mau dong jadi host acara petualangan, asik banget deh.” Sebulan kemudian Tuhan mengabulkan keinginan gue (God is so coolllll).

Mungkin sebagian besar orang mikir pekerjaannya enak banget dan gampang banget, Cuma jalan-jalan terus dapet duit, tapi ternyata nggak sama sekali lho. Bayangin aja, tangan gue bengkak 2 minggu gara-gara kena setir mobil pas offroad di sungai, sesak napas keracunan kalajengking, hanyut di sungai, ketelen air sungai, belum badan pada biru-biru semua.
Tapi itu masih nggak seberapa dibandingkan tekanan yang gue rasain…
Seperti yang semua orang tau, ada dua presenter JP yang iconic banget. Yang satu Riyanni Djangkaru, pembawa acara JP sejak awal JP tayang, yang udah sekitar 7 tahun dan satu lagi Medina Kamil pembawa acara JP yang sempet hilang di Papua dan udah bawain JP sekitar 5 tahun. Gue ngerasa seringkali dibandingin sama mereka berdua, dan rasanya tuh nggak enak banget. Pastilah gue kalah kalo dibanding mereka. Mereka udah lancar banget depan camera, sedangkan gue gagap camera. Susah banget deh kalo ngomong di depan benda satu itu, apalagi buat gue yang nggak punya cita-cita jadi artis dan bukan banci tampil.

Kadang-kadang sering banget denger comment-comment yang bikin ciut. Udah gitu kan sebagai presenter baru nggak ada yang kenal sama gue, jadinya gue ngerasa kalo lagi shooting di satu daerah dan orang-orang tau ada shooting JP, kayanya ekspektasinya ketemu dua orang itu, tapi apa boleh buat ternyata adanya gue. Huehehehe…
Waktu produsernya comment mulu, gue sampe bilang ke crew JP “yah jangan dibandingin sama Riyanni yang udah 7 tahun di JP dong, gue kan baru banget. Masih learning by doing.” Hehe…
Hal itu sempet jadi ganjalan di hati gue, dan akhirnya semakin gue pengen keliatan lebih baik, semakin gue tertekan dan malah tambah jelek depan camera. Sampai akhirnya gue sadar… yang membuat gue gak bisa bagus adalah gue berusaha untuk lebih baik dari mereka. Dari dulu gue suka gitu, keras kepala dan nggak mau kalah. Gue merasa apa yang orang lain bisa lakuin pasti gue bisa. Kadang-kadang bagus sih punya pikiran kaya gitu, membuat gue jadi lebih berani dan nekat. Tapi kadang-kadang itu bisa jadi boomerang buat gue sendiri. Akhirnya gue sadar, gue nggak perlu lebih baik dari mereka, karena sampai kapanpun mungkin nggak akan bisa, pada akhirmya gue malah jadi nggak jujur dan nggak jadi gue apa adanya.
Karena itu sekarang ini gue cuma mau untuk berusaha lebih baik dari diri gue yang sekarang. Kompetisi terbesar gue bukan ngelawan orang lain, tapi gimana ngelawan diri gue sendiri. Setiap jam, menit, detik, gue akan berusaha untuk menjadi the better me, dan bukan semata-mata untuk orang lain, tapi untuk diri gue sendiri. Hehe…

Biarin Riyanni Djangkaru dengan caranya sendiri, biarin Medina Kamil dengan caranya sendiri dan gue dengan cara gue sendiri. Gue nggak tau sih setelah 7 episode ini apa kontrak gue akan diperpanjang, tapi gue nggak mau menyesal, karena gue udah berusaha melakukan yang terbaik, dan yang penting gue jujur, dan semoga kejujuran itu bisa tertangkap di camera dan menghibur orang yang menontonnya. Hehehe…
Sampai sekarang gue masih kok deg deg kan depan camera, masih suka salah-salah, masih nggak cameragenic, tapi selama Tuhan masih ngasih kesempatan, gue akan selalu berusaha untuk lebih baik. Bukan lebih baik dari orang lain, tapi lebih baik dari diri gue sendiri lho yahhhh…. :)

Cheers!

Diana Oktavia a.k.a kebobunting